putra1922

Memuat...

NOVELISASI BORUTO THE MOVIE-CHAPTER 1 “ANAK SEORANG PAHLAWAN”

boruto-naruto-the-movie

Boruto: Naruto The Movie (Novelisasi)
Penulis: Ukyō Kodachi
Ilustrasi: Masashi Kishimoto
Translator: Cacatua(Eng), NR@Narutonian (Ind)
Support penulis dengan membeli novelnya!
Boruto the Movie Novelization, Chapter 1
Chapter SatuAnak Seorang Pahlawan
Ada seorang anak laki-laki yang selalu menatap punggung ayahnya yang lebar.

ch1-1
.
Ayahnya adalah seorang pahlawan.
Dia bukan hanya pahlawan biasa.
Dia adalah pahlawan yang telah menyelamatkan dunia.
Bahkan diantara nama-nama penerus Hokage yang kini telah mencapai generasi ketujuh, nama ayahnya merupakan nama yang paling istimewa, pahlawan diantara pahlawan.
Sang Hokage Ketujuh, Uzumaki Naruto.
Itulah nama ayahnya.
Namanya merupakan nama yang sangat bersinar…dan juga nama yang berat.
.
Ayahnya tak hanya bertanggungjawab untuk mengawasi keluarganya.
Anak laki-laki ini belum mengerti fakta itu.
“Tapi, itulah kenapa aku selalu bilang padamu…itu bukan alasan yang bagus untuk tidak memperhatikanku-ttebasa…”
Namun, karena hal itu tak dapat dihindari maka ia merasa seperti itu, tak ada yang memarahi atau memperingatkannya akan perasaan itu.
*
Sebagian besar desa Konohagakure dipenuhi dengan bagunan tempat tinggal yang dikelilingi oleh keindahan alam.
Ada tempat di balik keindahan alam itu dimana para manufaktur pertanian tinggal, atau tempat dimana orang-orang menyuplai potongan kayu dari berbagai provinsi.
Pemukiman orang-orang itu bukan lagi pulau kecil di dalam lautan luas yang terkenal dengan nama sebuah hutan.
Sang bocah laki-laki, Uzumaki Boruto, saat ini sedang berlari melewati hutan besar itu.
Ia adalah anak laki-laki yang mewarisi rambut emas dan mata biru ayahnya, dan bentuk wajah yang lembut seperti ibunya.
Di dahinya terpasang hitai-ate, yang membuktikan bahwa dia adalah seorang ninja, terpancar dengan jelas.
Ia sudah menjadi genin –tingkatan terbawah dari shinobi- karena ia ingin mengejar ayahnya, atau karena ia ingin melalui jalan yang berbeda dari ayahnya?
Boruto masih belum yakin.
Baik ayahnya ataupun ibunya tak pernah menyuruhnya untuk menjadi ninja, tapi tak salah lagi bahwa orang-orang di sekitarnya mengharapkannya.
Tidak—dirinya sendiri, saat ia masih sangat kecil, selalu berpikir bahwa ia ingin menjadi ninja seperti ayahnya.
Tapi sekarang, aku…
“Boruto, jangan melamun!”
“Aku tidak melamun!”
Orang yang sedang berlari di sebelahnya adalah seorang genin dalam three-man-cell/ tim tiga orangnya, teman sekelasnya, Uchiha Sarada. Karakteristiknya berkacamata tebal dan berambut hitam, perempuan muda yang pemurung. Belakangan ini, dia menjadi sedikit pupoler di kalangan teman-teman lelaki mereka, tapi jika kau tanya teman bermain sejak kecilnya, Boruto, maka–
Dia hanya bertambah tinggi sedikit, dia Sarada yang sama seperti biasanyanya, kan?”
–adalah hal yang akan dikatakannya.
“Boruto, kau yang memimpin di depan.”
Orang yang berbicara barusan adalah Mitsuki, anggota timnya yang satu lagi.
Nama lengkapnya tak diketahui.
Dia tak berasal dari Konoha.
Dia tiba-tiba saja muncul di Akademi, dan lama-kelamaan menjadi wajah yang menunjukkan bahwa dia adalah bagian dari kelas, seseorang seperti roh penjaga dari dongeng.
Yah, organisasi ninja banyak mengandung rahasia, dan komunikasi dengan yang lainnya tidaklah banyak, jadi tak mengejutkan jika ada shinobi yang garis keturunannya tidak diketahui. Itulah yang guru mereka, Konohamaru, katakan.
Kemungkinan hal seperti itu merupakan keadaannya.
Sambil Boruto berlari, ia membuat segel di tangannya.
Kagebunshin no Jutsu!
Dalam sekejap, jumlah Boruto yang berlari telah berubah menjadi tiga.
Kagebunshin no Jutsu, yang memungkinkan seseorang menggunakan chakranya untuk membuat tiga kloning dirinya yang memiliki kesadaran sendiri, adalah keahlian Naruto, ayah Boruto. Fakta bahwa Boruto dapat menguasai teknik yang dulu pernah dilarang di desa ini menunjukkan bakatnya yang langka.
Namun, alasan mengapa tak ada seorangpun yang heran akan hal itu adalah karena Boruto adalah ‘putra dari Naruto‘.
Putra Naruto mempelajari Kagebunshin merupakan hal yang wajar seperti anak elang yang terbang di angkasa, dan tak mendapatkan respon yang mengejutkan.
Itulah yang membuat Boruto sangat kesal hingga mencapai taraf yang tinggi.
Dia melompat.
Dia melewati hutan yang hijau, dan menemukan langit biru yang terhampar di depan matanya.
Di perkebunan sayur dekat hutan itu, seekor binatang hitam dan putih sedang melahap dan mengunyah apa yang diproduksi disana.
Tak ada satupun tanaman hijau yang tersisa di sekitar area itu.
Itu adalah pemandangan yang menyenangkan, namun dari sudut pandang sang petani, itu bukanlah lelucon. Jika dia tak mendapatkan kompensasi dari desa Konoha, maka dia tak akan mampu bertahan melalui musim salju.
Itu merupakan situasi yang wajar untuk misi ninja peringkat D.
“Kau sangat merugikan tepat ini, tahu…? Aku adalah lawanmu, dasar panda sialan!”
ch1-2
Tiga orang Boruto berdiri dengan bangganya.
Kunai telah siap di tangannya.
“Ini adalah beruang, jadi-“ ucap Sarada.
“Ha?”
Teman masa kecilnya itu selalu merasa terganggu dengan detail kecil.
“Itu benar-benar beruang yang terlihat seperti panda yang mengerikan!!” Ucap Sarada.
“Ini akan mudah, tenang.” Ucap Boruto. “Itu cuma panda yang membosankan-ttebasa!”
“Kubilang itu panda!! Akan buruk kalau kau meremehkannya, Boruto bodoh!!”
‘Ngomong-ngomong, beruang panda termasuk genus beruang panda yang independen, famili ursinae, infraordo arctoidea, subordo caniformia dari karnivora. Sama seperti  beruang yang termasuk genus ursus, famili ursinae dari karnivora, panda itu termasuk genus panda raksasa, subordo panda raksasa, famili ursinae dari karnivora. Dengan begitu, kau bisa mengatakan kalau mereka merupakan spesies yang sejenis’.
Tapi, menurut Mitsuki:
“Tidak masalah yang manapun itu, kan?’
Itulah yang terjadi saat ini.
“Sekarang,” ucap Mitsuki, “Prioritas pertama tim kita adalah membawa…beruang panda ini pada Konohamaru-sensei!”
Namun, beruang panda itu bertindak lebih dulu.
“GUAAAAAAAHHHHHHH!”
Dengan auman, beruang panda itu berbalik ke arah mereka dan mulai berlari.
Tampaknya dia tak takut pada manusia.
Yang artinya jika dia dibiarkan begitu saja, tidak ada yang tahu cedera seperti apa yang akan dihasilkan jika di menyerang menduduk.
Berat tubuh beruang panda itu mendekati satu ton.
Satu makhluk yang beratnya sebesar itu berlari ke arahmu tak ada bedanya dengan batu besar menggelinding ke arahmu.
“!”
ch1-3
Di sebelah Boruto, Mitsuki memanjangkan tangannya seolah-olah tangan itu terbuat dari tali.
Bukan berarti dia berniat untuk menaklukkan beruang panda itu sendirian.
Bisa dibilang, seperti lasso, tangan Mitsuki mengelilingi kaki beruang panda itu untuk mencegah pergerakannya.
“SHANNA–WHA?!”
Sarada, yang berencana untuk menghantamnya dengan kekuatan manusia super yang diwariskan dari ibunya, dihalangi oleh salah satu Boruto.
“Oraaa!” Dua Kagebunshin Boruto meninju beruang panda itu tepat di wajahnya.
Dia tak berniat untuk menaklukkan hewan itu dengan pukulannya—meskipun hal itu bisa dilakukan dengan tinjuan Sarada, menaklukkan hewan itu bukanlah tujuan misi mereka.
Beruang panda yang ditinju di wajah itu, tepat di lokasi dimana saraf yang sensitif terkumpul pada mata dan moncongnya, menjerit kesakitan, dan mulai melarikan diri secepat kilat.
Menyerang beruang panda yang memiliki berlapis-lapis lemak merupakan hal yang tak mungkin bagi manusia tanpa meningkatkan kekuatanya degan chakra, namun, jika hanya untuk memberikan mereka rasa sakit, itu merupakan sesuatu yang mungkin.
Bagiamanapun, hewan liar tak ingin mati.
Manusia adalah satu-satunya makhluk yang berjalan menuju kematian meskipun mereka tak ingin mati.
“Lihat!” Wajah Boruto menampakkan cengirannya karena berhasil mengecoh Sarada, “Mudah, kan, mengurus panda itu!”
Bukan karena ia membenci Sarada.
Bukan sama sekali.
Bukan itu, tapi, untuk menyederhanakannya, mata Sarada selalu mengawasinya, jadi ia ingin terlihat hebat di depannya.
‘Persaingan’ adalah yang terjadi.
Mungkin.
Boruto berlari mengejar panda itu.
“Seperti yang diperkirakan dari putra Hokage Ketujuh, dan cucu Hokage Keempat… Apa Boruto akan menjadi Hokage juga suatu hari nanti…?” Komentar Mitsuki.
Dia tak bermaksud sarkastis.
Sarada juga tahu itu.
Mitsuki muda yang sulit dipahami itu selalu mengatakan apapun yang muncul di benaknya. Dia adalah tipe orang yang disebut sebagai ‘orang yang tak bisa membaca keadaan’.
Orang yang tidak bisa membaca keadaan itu berharga.” Konohamaru-sensei pernah mengatakan itu. “Jika semua orang membatasi apa yang mereka katakan untuk menyesuaikan keadaan, maka seluruh organisasi akan hancur tanpa ada yang menyadari apa yang terjadi, karena mereka semua terbawa arus suasana. Suatu organisasi membutuhkan orang-orang yang memberikan argumen yang adil tanpa dipengaruhi keadaan. Terutama organisasi ninja. Hokage Ketujuh seperti itu juga. Tidak peduli bagaimana keadaannya, dia tidak pernah mencoba untuk menyesuaikan keadaan, dan mengatakan yang sebenarnya.”
Yah, pastinya ada sisi buruk dari orang yang tak bisa membaca keadaan, namun bukan berarti Mitsuki tak mampu mempertimbangkan kata-katanya. Hanya saja hampir setiap saat, dia memilih untuk tidak mempertimbangkannya. Dia selalu memilih solusi yang paling aman, dan menampakkan ekspresi bingung di wajahnya jika orang lain tidak memilih solusi itu.
Itulah mengapa perkataan yang baru saja keluar dari mulut Mitsuki merupakan sebuah observasi yang objektif.
Boruto telah menghalangi pergerakan Sarada, terus-menerus mengontrol kedua kagebunshinnya, dan mendaratkan pukulan pada panda yang gesit itu.
Secara keseluruhan, itu bukanlah teknik dari seorang genin.
Aksinya sekelas dengan chuunin…tidak, bahkan mungkin jounin.
Tapi.
Saat Uzumaki Boruto adalah putra dari Naruto yang terkenal, Uchiha Sarada merupakan putri dari Sasuke dan Sakura yang terkenal.
Dia tidak bisa kalah dari Boruto dalam hal seperti itu.
Tidak, ini bahkan bukan tentang garis keturunan.
Ini adalah tentang tekad seorang shinobi.
“Orang yang akan menjadi Hokage adalah aku!!” Sarada berlari mengejar Boruto.
60 km/jam.
Itulah kecepatan dari sang beruang yang sedang berlari.
Itulah mengapa tak ada gunanya bagi manusia biasa untuk melarikan diri dari seekor beruang. Dan tentunya, karena beruang panda merupakan kerabat dekat beruang, maka kecepatannya sama, atau lebih tepatnya, lebih cepat daripada seekor beruang.
Boruto dan yang lainnya masih mampu mengejar beruang panda itu karena mereka masih muda, dan mereka adalah ninja.
Boruto, Sarada, dan Mitsuki, ketiganya setengah mengelilingi panda itu sambil menggiringnya.
Konohamaru-sensei berdiri beberapa jarak di depan mereka.
Konohamaru adalah seorang jounin yang merupakan cucu dari Hokage Ketiga, Sarutobi Hiruzen. Dia adalah shinobi veteran yang memberikan kesan layaknya pisau yang tajam.
Karena dia merupakan mentor dari Boruto dan yang lainnya, kau dapat memahami ekspektasi yang melekat pada mereka bertiga.
Ada sebuah senjata yang terpasang di tangannya, sesuatu seperti sarung tangan ataugauntlet, yang Boruto belum pernah lihat sebelumnya.
Konohamaru mengarahkan ujung dari gauntlet itu ke arah sang panda.
“GUOOOH…!?”
Itu adalah bayangan.
Sebuah bayangan yang menjerat bayangan panda itu dan menghentikan pergerakannya.
Tak sama sekali dibutuhkan kawat kuat yang biasanya digunakan untuk mengikat hewan berbahaya untuk menjerat panda itu.
“Terima kasih, terima kasih banyak.” Para penduduk mengucapkannya berulang-ulang, memuji mereka lagi dan lagi.
Mereka melakukannya bukan tanpa alasan.
Jika mereka datang lebih lama lagi, desa itu mungkin sudah lenyap. Tidak, lebih dari itu, adalah suatu keberuntungan mereka berhasil menangkap panda itu sebelum dia mencoba bagaimana rasanya daging manusia.
“Tim penyelamat akan datang dan mengurus sisanya,” Ucap Konohamaru.
“Uhm…Konohamaru-sensei…” Sarada memandang Konohamaru dengan ekspresi bingung.
“Mm?”
“Teknik yang kau gunakan untuk menghentikan beruang itu…adalah teknik rahasia Klan Nara, Kageshibari, kan…?”
“Yeah.” Konohamaru memperhatikan area desa itu, dan kemudian mengeluarkan senjata yang digunakannya tadi. “Ini adalah peralatan ninja sejenis gauntlet yang dapat mengeluarkan jutsu.”
Di tangan kirinya, dia memegang gulungan yang ukurannya seperti peluru kecil. Gulungan itu tak tampak seperti senjata ninja yang disebut Dankyuu yang ditembakkan dengan tali.
“…Keren!” Boruto tak bisa mengontrol getaran ketertarikannya saat ia melihat senjata itu. Ia adalah bocah yang menyukai hal yang berbau mekanik. Ia juga menyukai senjata. Tak mungkin ia dapat mengatakan ‘tidak’ pada mesin yang merupakan senjata.
“Apa itu senjata ninja baru yang jadi rumor itu?”
“Kau punya telinga yang tajam, Mitsuki.” Ucap Konohamaru, “Yeah, ini adalah prototype divisi Peralatan Ninja Ilmiah. Nilai dari data di dalam benda ini sangat ditunjukkan pada misi kali ini.”
“Gulungan itu kecil sekali…apa maksudmu jutsu itu ada di dalam gulungan itu?”
“Kau bisa menyegel jutsu ke dalamnya, bocah. Saat ini, mereka menyegel Kageshibari milik Shikamaru-san di dalamnya.”
Begitu ya, Sarada berkata dalam hati sambil mengangguk. Jika jutsu itu adalah milik sang Kepala Klan Nara Muda, Shikamaru, maka bukanlah hal yang aneh jika jutsu itu digunakan.
Konohamaru mengambil salah satu gulungan yang masih tersisa.
“Jika itu rasenganku maka…”
Sebuah rasengan muncul di tangan kanan Konohamaru.
Di masa lalu, ayah Boruto, Naruto mempelajari teknik itu dari master ninjutsu, Jiraiya, dan kemudian Naruto mengajarkannya pada Konohamaru. Itu adalah teknik yang dapat menghancurkan dengan membentuk putaran angin sarat chakra.
Boruto tak dapat melakukan rasengan.
Dia pernah mencobanya sekali dua kali, namun ia tak dapat memahami bagaimana mulai membentuknya. Dia tak dapat mengerti tentang manajemen chakra yang lebih detail.
Konohamaru mengeluarkan rasengan yang sama, dan menyegelnya ke dalam segel di tangan kirinya.
“Kau lakukan ini…” Konohamaru menarik gauntlet itu. Dia memasukkan gulungan itu ke bagian mekanis dari sarung tangan itu. “Dan kau bisa menembakkannya!”
Tepat setelah kata-kata itu keluar dari mulut Konohamaru, rasengan meluncur dari ujunggauntlet itu. Rasengan itu merobohkan begitu banyak pohon. Meluncur bagai angin topan.
“WOOOOOOOOAHHH!”
Boruto sangat terpukau.
Untuk menembakkan rasengan dari tanganmu, bahkan Naruto membutuhkan latihan yang berat dan kombinasi elemen angin. Namun jika kau menggunakan peralatan ninja ini, kau bisa menguasainya dalam hitungan detik.
Bahkan Sarada yang berkepala dingin tak dapat menyembunyikan keterjutannya.
“Itu…sangat hebat.” Ucapnya. “Apa semua orang bisa menggunakannya?”
“Yeah…” Jawab Konohamaru. “Tidak masalah jika kau punya chakra yang cukup atau tidak…untuk mencapai hal yang se-ekstrim itu, tidak masalah bahkan jika kau bukan ninja.”
“Konohamaru-sensei.” Mitsuki menarik lengan baju Konohamaru.
Sang guru tak menyadarinya, dan melanjutkan penjelasannya. “Target jutsu ini tidak dikontrol oleh chakramu, jadi, yah..masalahnya ada pada sedikit kemelesetan…”
‘Sedikit’ bukanlah frase yang pantas untuk digunakan.
Tampaknya rasengan Konohamaru meleset terlalu jauh. Pepohonan yang dihancurkan rasengan tadi tumbang ke arah yang paling dekat dengannya: rumah sang petani.
“………………..”
Konohamaru melihat para penduduk yang mengelilingi beruang panda itu kini berpaling ke arah mereka dengan mata yang menampakkan kobaran amarah.
*
Suara yang familiar menggema dari TV LCD.
Sejak kapan semua TV berubah menjadi LCD yang datar? Boruto mencoba memutar memorinya.
Dalam memori terjauh yang bisa diambilnya, ia mengira bahwa televisi Ichiraku merupakanCRT display. Apa televisi itu masih CRT? Kalau iya berarti televisi itu tak bisa menerima sinyal digital, kan? Jadi itu berarti televisinya telah berganti menjadi LCD. Tidak, apa jangan-jangan dari awal sudah LCD?
Satu hal yang penting bagi ninja adalah memori mereka. Perkataan Konohamaru melintas di pikiran Boruto.
‘…Tidak akan bisa jika kita tidak mampu terus melindungi perdamaian dan kemakmuran yang telah membawa kita pada dunia penuh informasi. Dan sekarang, tentang Ujian Chuunin yang akan datang, yang akan dilaksanakan Kelima Desa bersama…apa kau punya komentar yang dapat diberikan pada para kandidat genin? Naruto-san.’ Penyiar berita yang berpakaian rapi dan berwajah cantik dan populer di layar mengarahkan microphone-nya dengan senyum di wajahnya.
Boruto tahu kepada siapa pembawa penyiar berita itu mengarahkan microphone-nya tanpa perlu melihat.
Ayahnya.
Ada tiga hal yang penting! Kerja sama, tekad yang kuat, dan…’ Mata Naruto melirik ke kiri dan kanan.
Dia mungkin tak bisa memikirkan yang ketiga.
Ayah selalu seperti itu.
Dia bukanlah orang yang pandai berbicara seperti Gaara atau Shikamaru.
Boruto merasa bahwa ayahnya harusnya lebih sadar diri.
Hal seperti Boruto yang bangun di pagi hari dan lupa memasang kaus kaki dan dimarahi ibunya, hal-hal seperti itu seharusnya juga bisa diselesaikan jika dia mengurangi sifat pelupanya.
Tekad yang kuat!” Ucap Naruto di layar. “Semuanya, lakukan yang terbaik!”
“…Tampaknya itu hanya dua hal, ya?” Penyiar berita itu melanjutkan bicaranya. Dia memilikiskill yang hebat. “Terima kasih atas komentarmu yang sangat menakjubkan. Sekian siaran langsung hari ini.”
Naruto di layar LCD itu menghilang, poof!
Itu adalah salah satu kagebunshinnya.
Tak begitu mengejutkan.
Mempertahankan kesadaran kagebunshin-mu saat mereka mulai bekerja cukuplah sulit, namun itu membuat “orang yang sama” dapat melakukan banyak hal sekaligus.
Bahkan pada saat ini, Naruto berada di berbagai tempat seperti lokasi konstruksi bagunan atau tempat latihan, mengerjakan pekerjaan sehari-harinya.
Naruto dapat membuat begitu banyak kagebunshin karena dia memiliki chakra yang sangat besar.
Ayahnya dapat melakukan itu karena dia memiliki makhluk yang disebut “Bijuu” dalam tubuhnya.
Boruto sudah sering mendengar tentang bagaimana ayahnya menderita sejak lahir karena keadaannya, dari ibunya maupun dari orang dewasa lainnya.
Namun…
“Oi, apa kau mendengarkanku, Boruto?!” Bentak Naruto.
“Yeah, aku dengar.”
Di sebelah TV yang sedang menyiarkan berita, ada setumpuk gunungan kaleng kopi dan paket minuman bernutrisi.
Itulah kompensasi menjadi manusia super yang mempertahankan kesadaran kagebunshin bersamaan dengan membuat keputusan untuk seluruh kagebunshinnya.
“Ayah yang disini mungkin juga kagebunshin, huh?” Ucap Boruto.
“Ini kantor Hokage! Mana mungkin aku kagebunshin! Dan di situasi ini, kau seharusnya tidak memanggilku ayah, tapi Hokage atau Nanadaime!”
Naruto sedang marah sejak tadi.
Yah, Boruto merasa adalah hal yang wajar jika dia marah.
Mereka menyebabkan begitu banyak kerusakan sebelumnya sehingga misi mereka bisa dikatakan gagal.
Bukanlah ide yang bagus untuk menggunakan Oiroke no Jutsu milik Konohamaru-sensei untuk menipu dan melarikan diri dari pada penduduk.
Itulah mengapa setiap anggota Tim Konohamaru kini berada dalam masalah.
Dari dulu, sensei kami selalu bertingkah seperti anak-anak dan terbawa suasana…
Boruto tahu jika ayahnya tak memarahinya langsung di sini, itu akan menunjukkan sifat pilih kasih pada putranya. Ia juga mengerti alasan dibalik mereka dipanggil ke Kantor Hokage.
Jika ia berada di posisi ayahnya, ia mungkin juga akan marah.
Dan itulah yang menyebabkan Boruto merasa kesal.
Ayahnya tak melihat masalah itu secara keseluruhan.
Apakah Uzumaki Naruto benar-benar orang orang yang memprioritaskan alasan orang dewasa dalam semua hal?
“Oh, baiklah…” Boruto menggerutu, “Itu adalah misi yang sangat mudah, tuan! Aku bahkan bisa mengerjakan misi ini sendirian-ttebasa!”
“Kerja sama dan kekuatan tekad adalah hal yang berharga bagi shinobi!” Ucap Naruto, “Bekerjasama sebagai satu tim dalam latihan juga…”
“Tanpa latihan apapun aku sudah bisa membuat tiga kagebunshin, dan Fuuton, dan Raiton, dan belakangan ini Suiton juga!”
Itulah kenyataannya.
Uzumaki Boruto adalah anak yang sangat berbakat.
Jika ia mencoba sesuatu, maka ia bisa melakukannya.
Saat banyak orang yang mengatakan itu karena dia mewarisi chakra yang besar dari ayahnya, banyak juga yang mengatakan itu karena garis keturunan Hyuuga yang diwarisi dari ibunya, Hinata. Hyuuga adalah klan paling terkenal di Konoha. Tak aneh jika kejeniusannya berasal dari putri Hyuuga, Hinata.
Bakat itu tak mengejutkan.
Itulah mengapa, rasanya evaluasi merupakan hal yang tak perlu.
Apakah memang seperti itu seharusnya?
“Konohamaru!” Bentak Naruto. Ledakan amarahnya bahkan dapat didengar dari kejauhan. “Apa yang sudah kau ajarkan padanya selama ini…?!”
“Uh, tidak, aku, ahaha.” Konohamaru tertawa gelisah, gugup.
“Ini tidak ada hubungannya dengan sensei, kan??!!” Boruto meninggikan suaranya.
ch1-4
Bukan ini.
Bukan ini yang ingin Boruto lihat.
Hal seperti urusan politik antara atasan dan bawahan dalam dunia perninjaan…bukan ini yang diinginkannya.
“Sebagai seorang shinobi,” lanjut Naruto,” Hal yang penting adalah…!”
…yah, ia pun tak berharap ayahnya mengerti.
“Yang lebih penting,” potong Boruto, “Sebagai seorang ayah, hari ini adalah hari yang penting…kau tahu maksudku,kan?”
Boruto memukul meja ayahnya dengan keras, mencoba untuk memasang ekspresi semarah mungkin. Bukannya ia mengira ayahnya akan takut atau sejenisnya, tapi jiwa pelawan adalah sesuatu yang penting baginya sebagai bocah laki-laki.
“Kalau kau sampai lupa dengan ulang tahun adikku, maka aku tidak akan memaafkanmu.”
Ketika Naruto melewatkan ulang tahun Boruto karena pekerjaan, hal itu tak termaafkan, tapi Boruto memaafkannya.
Tapi adik kecilnya, Himawari, dia masih jauh lebih kecil dari Boruto.
Dia tak akan bisa mengerti perbedaan seorang ayah dengan seorang Hokage.
“…”
Wajah Naruto akhirnya menampakkan rasa bersalahnya.
Jika Boruto tak dapat menangkap ekspresi itu, dia pasti akan kesusahan.
Saat ini, melihat wajah itu adalah hal yang paling penting bagi Boruto.
Itulah mengapa Boruto tak menyadari bagaimana di sebelahnya, Sarada melirik dirinya dengan ekspresi sedih.
*
Atmosfer yang menegangkan rusak karena kedatangan Katasuke, pemimpin Divisi Perlatan Ninja Ilmiah.
Dia sejenis pria yang berpakaian aneh, dan untuk membuatnya lebih buruk lagi, dasi pita. Dia adalah orang yang terkenal di Era Nanadaime.
“Aku kesini untuk meminta perizinanmu, Nanadaime, sebagai pemimpin Divisi Peralatan Ninja Ilmiah.” Katasuke mulai berbicara tanpa menghiraukan keberadaan Boruto dan seluruh Tim Konohamaru. “Kami ingin kau memberikan kami izin supaya peralatan kami bisa digunakan untuk Ujian Chuunin tahun ini.”
Dengan pose yang sangat berlebihan, Katasuke mengeluarkan gauntlet seperti yang sebelumnya digunakan Konohamaru. Benda itu terbuat dari bahal plat chrome, dan tampak kuat dan stylish. Gauntlet itu membuat shuriken yang sudah berbaret yang menggantung di dinding tampak kuno dan membosankan.
“Jika kami menstandarisasi dan memproduksi gauntlet yang dapat meluncurkan ninjutsu para ninja superior ini secara massal, maka para Genin tidak membutuhkan latihan keras, dan jangkauan jutsu setiap orang akan meningkat secara eksponen! Itu akan menjadi sesuatu yang menakjubkan untuk ditonton, juga-“
Jawaban Naruto merupakan serangan balik.
“Tidak.”
“Kenapa, Hokage-sama?”
“Ujian Chuunin bukanlah tontonan… Ujian itu untuk membesarkan shinobi.” Ucap Naruto. “Aku mengakui peralatanmu sangat berguna, tapi jika kita menggunakan itu di Ujian Chuunin, maka tidak akan ada yang bisa dinilai, iya kan? Lagipula, saat ini, alat itu tidak digunakan terus-menerus oleh pasukan.”
Alasan Naruto masuk akal.
Ujian Chuunin mengevaluasi kemampuan untuk mengambil komando sebagai pemimpin pasukan.
Orang-orang sering tak mengerti soal ini, tapi perbedaan antara genin dan chuunin bukanlah kemampuan bertarung atau kekuatannya dalam pertempuran.
Kualitas yang dibutuhkan shinobi yang menjalani misi rahasia adalah kemampuan untuk membawa kembali anggota mereka hidup-hidup dan menjalankan misi mereka dengan sukses. Ninja yang lebih tinggi dari Chuunin memiliki kemampuan yang hebat dalam pertarungan individual sebagai tambahan, tidak lebih.
Jadi jika gauntlet menjadi senjata standar ninja yang digunakan oleh para genin, maka akan datang hari dimana muncul pertanyaan dalam Ujian Chuunin mengenai gauntlet dan pengetahuan, karena saat itu senjata itu terus digunakan oleh pasukan. Namun, bukan itu keadaan saat ini.
Namun, Boruto tak dapat mengerti alasan Naruto.
Menurutnya jika itu adalah alat yang berguna, maka lebih baik menggunakannya.
Datangnya perdamaian membuat teknologi militer rahasia dirilis ke publik secara tiba-tiba, dan umpan baliknya telah melahirkan inovasi teknologi dunia.
Bagi Boruto, yang tumbuh di tengah keadaan itu, kewaspadaan ayahnya tampak seperti tindakan generasi lama yang mencoba untuk mengontrol generasi baru.
Rasanya seperti ayahnya tak benar-benar siap menerima era baru.
“Era kami berbeda dengan eramu yang mebosankan.” Bentak Boruto. Tak ingin melihat wajah ayahnya yang marah lebih lama lagi, ia melepaskan genggaman Konohamaru, dan keluar dari ruangan.
Suara Naruto terdengar memanggilnya, tapi tak lebih dari itu.
Orang yang mengejar Boruto di koridor bukanlah Naruto atau Konohamaru, tapi Katasuke.
Bukannya mereka tak mengenal satu sama lain.
Mereka memiliki hubungan simbiosis mutualisme.
Menjadi putra Hokage tak selalu buruk. Ada keuntungan sampingannya.
“Data terbaru.” Ucap Katasuke, memegang memory card yang tampak formal. Boruto mengantonginya dengan santai.
“Terima kasih ya! Aku mengandalkanmu untuk data software yang selanjutnya juga.”
“Tentu saja…ngomong-ngomong, tuan muda, apa kau juga berniat mengikuti Ujian Chuunin?”
Saat Boruto mendengar kata ‘Ujian Chuunin’, moodnya berubah masam.
Tak ada yang berubah sejak ia menjadi genin.
Apa yang akan terjadi jika ia menjadi chuunin?
“…Aku tidak ikut.”
“Aw yah, sayang sekali…” Katasuke sudah terbiasa dengan ini. Dia memasang senyum kharismatik seolah-olah menerima perangai Boruto.
Para insinyur tak selalunya orang yang munafik. Mereka terampil dalam presentasi, hebat dalam bersosialisasi dan memiliki kemampuan komunikasi yang baik. Di antara pada insinyur muda, bersikap menyolok bukanlah sesuatu yang bisa menghasilkan pujian.
“Aku yakin semua orang ingin melihat kemampuan tuan muda yang sebenarnya.” Lanjut Katasuke, “Terutama…ayahmu.”
Telinga Boruto berkedut mendengar kaya ‘ayah’.
“Apa Hokage…menonton Ujian Chuunin?”
“Tentu saja.” Katasuke tersenyum riang.
*
Cipratan darah merah pekat memenuhi benteng marmer itu.
Dengan suaran lengkingan layaknya babi hutan liar, leher ular berkulit hijau yang mengerikan terlempar di udara.
“Inojin! Dua orc pergi ke arah sana!”
“Aku akan menanganinya!”
Bocah laki-laki cantik yang mengenakan jubah putih bersih, Yamanaka Inojin, mengangkat tongkat hijau yang terbuat dari kayu ek dengan tangannya, dan saat ia melakukannya, tombak petir melayang melewati koridor itu, menembus dua orc di depannya.
“Dengan ini, sebagian besar level ini sudah selesai…”
Pendekar pedang muda yang mengenakan armour perak, Nara Shikadai, memperhatikan sekitar koridor itu dengan seksama.
“Nn…!?”
Persepsi Shikadai sudah terlatih untuk mendengar getaran halus yang datang dari koridor yang seharusnya sudah kosong.
Suara yang bahkan sulit kukenali dengan kemampuanku…! Kaki empat…dan kecepatannya…ini buruk!
Kepala raksasa yang tingginya mencapai 10 meter perlahan muncul. Skink lizard berkaki empat dengan sayap kelelawar dan sisik obsidian.
Itu adalah naga hitam.
Dan yang lebih lagi, ini naga dewasa! Sial, hanya ada 1% kemungkinan langka untuk menghadapi yang seperti ini, tapi tingkat kecepatannya 20…!
Jika cairan asam dimuntahkan ke arah mereka, maka tak diragukan lagi, Inojin yang ber-armour ringan dan Shikadai yang ber-armour berat akan terevaporasi, menguap.
Sayang sekali, tapi Shikadai mulai mempertimbangkan untuk menghentikan misi itu dan mundur karena minimnya pengalaman dari level yang telah mereka capai. Dan pada saat itu juga-
“Kau harusnya tidak menolak hadiah yang muncul-ttebasa!” Boruto, yang telah memberantas para orc di koridor lain, muncul di sisi Shikadai.
“O-oi.” Shikadai tergagap.
“Kubilang aku akan menanganinya.”
“Tidak, kau seorang Light Warrior, kan?!” Protes Shikadai, “Diagram kemampuan bertarungmu dengan makhluk itu adalah yang paling buruk!”
“Serahkan saja ini padaku!”
“Boruto!” Pekik Inojin.
Tak memedulikan peringatan Inojin dan Shikadai, Boruto segera menuju ke arah mata naga itu.
“GOOOOOOOOOOOOOON!”
Rahang naga itu membuka.
Arus cairan asam menyembur keluar, cukup untuk memenuhi seluruh koridor itu.
Apa dia mati…?
Shikadai, yang telah berlindung di tembok lain, perlahan mengintip keluar, namun dia tak melihat tubuh Boruto yang terbunuh secara tragis.
“Ayo!” Teriak Boruto. Beberapa saat sebelum Shikadai menyadari, ia melompat ke moncong naga itu. Boruto mencongkel mata naga itu dengan dua pedang di tangannya.
“A-ap?!” Shikadai terkejut, “Ini kan sinergi dari Lightweight Armour level 3 dan Two Sword Mastery 5, dan yang lebih dari itu, Ambidexterity dan One Hand Mastery!”
“Pedang di tangannya adalah ‘Shadow Weaver’ dan ‘Law Bringer’, kan.” Sergah Inojin. “Dia tidak akan bisa menggunakannya tanpa kemampuan minimal level 75 dalam Two Hand Swordmanship.”
“Itu peralatan terbaru, kan?!”
Di depan sepasang orang yang terkesima itu, Boruto mengayunkan sebilah pedang terkutuk dengan satu tangan, dan sebilah pedang cahaya di tangan yang satunya, dan membelah sang naga hitam raksasa.”
Instrumen yang khas terdengar, dan kata-kata ‘Quest Complete’ muncul pada adegan pertarungan fiksional itu.
“Baiklah!” Boruto bersorak sambil memegang portable game consolenya di tangan. “Lihatlah penaklukkan monster langka itu!”
“Itu sangat hebat, hebat.” Ucap Inojin, “Terima kasih, Boruto.”
“Kau melakukannya dengan baik, bisa sampai ke tahap itu.” Ucap Shikadai.
“Nah, nah, nah, itu hanya soal bakat.” Jawab Boruto.
Yamanaka Inojin dan Nara Shikadai adalah teman baik Boruto. Setelah misi mereka berakhir, mereka akan bermain game console bersama di pojokan Burger Shop.
Perkembangan pesat teknologi komputer melahirkan game elektronik yang membawa hiburan yang belum ada sebelumnya. Kepuasan menjadi orang lain dalam dunia virtual dan berpetualang di dalamnya sangat menarik hati anak-anak.
“Baiklah, selanjutnya, ayo kita coba Monster Quest terbaru yang baru kudapat dirilis minggu lalu! Ada armour yang Ichiraku kolaborasikan!”
“Terdengar menyenangkan.” Ucap Inojin.
“…Boruto.”
Boruto, yang baru saja akan mencoba memainkan level selanjutnya tiba-tiba pandangannya dikaburkan oleh tumpukan dokumen. Ia mendongak untuk melihat senyum tenang Mitsuki.
“Tampaknya kau juga berpartisipasi aktif dalam games, huh.” Komentar Mitsuki.
“Ada apa denganmu, Mitsuki…kubilang padamu aku tidak mau mengikutinya!” Boruto menampakkan wajah kesalnya.
Sebagian karena perkataan Mitsuki yang sarkas, tapi juga karena Sarada berada di sebelah teman satu timnya itu, dan untuk alasan tertentu, hal itu membuatnya tak senang.
“Kita sudah ditanyai Konohamaru-sensei.” Ucap Sarada.
“Tim tiga orang adalah prinsip umum dari Ujian Seleksi Chuunin.” Jelas Mitsuki, “Jika kau tidak mendaftar, kami tidak akan bisa ikut.”
Itu terdengar masuk akal.
Itu adalah sesuatu yang lebih dari sekedar tak dapat berpartisipasi tanpa tim tiga orang. Boruto yang tak berpartisipasi dalam ujian juga menutup pintu kenaikan tingkat bagi Mitsuki dan Sarada.
Seseorang yang tak bisa bekerja dalam pasukannya sendiri tak memiliki kesempatan untuk mendapatkan hak menjadi pemimpin.
“Memangnya aku peduli.” Bentak Boruto.
Boruto, saat ini, tak menyadari nilai dari hal itu.
Itulah yang membuat sang gadis muda berkacamata sangat kesal.
“Dengar ya.” Tangan kanan Sarada menarik kerah Boruto, mengangkatnya turun dari kursi plastik Burger Shop itu. “Menjadi Hokage adalah mimpiku…dan kau menghalangi jalanku…!”
Mata serius Sarada memelototi Boruto dengan jarak mereka yang hanya sekelebat nafas.
Karena dia berusaha mencapai impiannya maka kemarahan Boruto semakin dalam.
“Bagiku, menjadi Hokage adalah…!” Boruto mengibaskan tangan kurus Sarada.
Kata ‘Hokage’ membuat Boruto merasa ingin meledak. Ia tak dapat mengerti orang-orang yang memiliki keinginan untuk menjadi Hokage.
“!”
“…sesuatu yang tidak kuinginkan sama sekali!” Tandas Boruto.
Kata-kata itu memancing amarah Sarada lagi.
Brak! Sarada memukul meja dengan tangannya, setengah menghancurkannya. Shikadai dan Inojin dengan cepat bergerak untuk menyelamatkan game consol mereka.
“Hokage bukanlah jabatan yang diwariskan!” Bentak Sarada.
“Ohh, kau tak tahu ya!” Boruto membantah, “Itu urusanmu kalau kau mau jadi Hokage, tapi lebih baik kau hidup sendirian! Karena hal itu bisa menyebabkan masalah bagi orang-orang di sekitarmu!”
“…”
Percakapan mereka tak akan ada ujungnya, namun Sarada mulai paham kenapa Boruto sangat marah, dan terdiam.
Namun, makna dibalik diamnya Sarada itu tak ditangkap Boruto, yang masih dipenuhi amarah.
“Boruto…” Inojin berbicara, game console di tangannya, lelah dengan kedua teman masa kecilnya yang bertengkar. “Kita juga tidak bisa terus bermain tanpa tim tiga orang, kau tahu…? Kita mungkin tidak bisa mengalahkan Boss yang selanjutnya tanpamu.”
“Ah…”
Mood Boruto untuk bermain game telah hilang.
“Kalau begitu aku akan berikan dataku pada kalian.” Ucap Boruto. “Itu mempersingkat dan mempermudah semuanya.”
“Tidak…” Protes Inojin, “Tidak boleh melakukan hal seperti itu.”
“Tidak masalah. Lagipula data itu juga diberikan orang lain padaku.”
“Eh?”
Untuk sesaat, Inojin dan Shikadai terlihat bingung, dan kemudian kecewa.
“…Apa-apaan.” Gumam Shikadai, “Kau menggunakan menggunakan cara curang yang busuk.”
Kedua bocah laki-laki itu berdiri dengan tatapan dingin di mata mereka.
“Eh…kalian berdua mau pulang?” Tanya Boruto.
“Yeah…” Jawab Shikadai. “Itu karena aku sudah bersusah payah mencurangi (menipu) ibuku, dan itu menyenangkan, kau tahu…”
Mata Shikadai memasang tatapan mencemooh pada Boruto.
Tatapan yang layak diberikan pada seseorang yang merampas sesuatu dari hasil kerja keras orang lain dengan cara curang.
Namun, saat itu, Boruto tak mengerti makna dibalik tatapan itu.
Paman pemilik Kedai Burger itu memaafkan kerusakan mejanya karena Boruto adalah putra Hokage.
Kejadian itu membuatnya malu, maka Boruto mendongak ke angkasa, meminum kopi hitam dari mesin kopi di depan swalayan favoritnya.
Kopi itu cukup, tidak, sangat pahit, dan rasanya tak terlalu enak, namun Boruto berpikir bahwa meminum minuman sejenis ini adalah sesuatu yang dilakukan orang dewasa, jadi dia meminumnya.
“Paling tidak, kita perlu memperikan formulirnya…kerja sama akan lebih baik, Boruto.” Ucap Mitsuki sambil meminum espresso. Penampakan di wajahnya seolah berkata dia bisa terus berbicara seperti ini seharian.
“Hey,” Sarada berbicara, memandang Boruto lekat-lekat.
Ia tak tahu kenapa Sarada ikut bersama mereka. Tidak, lebih tepatnya, ia berpura-pura tak tahu.
Dia tak marah seperti sebelumnya. Dia hanya mengkawatirkan Boruto, dan Boruto tahu itu.
Bahkan Boruto tak cukup peka untuk mencaci orang yang menunjukkan kebaikan seperti itu.
“Hey, Boruto…” Sarada memperhatikannya lewat lensa kacamatanya, “Ayo kita tunjukkan sisi menakjubkan kita pada Hokage-sama! Dalam ujian!”
Dia akan melihatnya.
Ayahnya akan melihatnya.
*
Sesuatu pernah terjadi, dulu.
Ia membuat grafiti yang mencolok di Monumen Hokage, dan dimarahi ayahnya.
Itu sebelum ia menjadi seorang genin.
“Ada waktunya aku tidak bisa menjadi ayahmu seorang.”
Itulah kata-kata ayahnya.
Ia mengerti.
Boruto tak berpikir untuk mencari perhatian ayahnya dengan cara yang dilakukannya dulu
Namun, pada saat yang sama, ia berpikir untuk membuat ayahnya tercengang, untuk merangkul lehernya dan membuatnya memperhatikannya.
Sisi yang menakjubkan.
Boruto tak mengetahui apa sisi menakjubkannya, namun bagaimanapun, ia adalah seorang jenius.
Ia harus memiliki hal itu.
*
“Sekarang karena kau mengatakannya,” Boruto melanjutkan pembicaraan karena moodnya mulai membaik, “Apa ayahmu akan menonton?”
Namun, reaksi Sarada tampak berbeda. Dia memberikan cibiran ‘hmph’ dan menggosok kacamatanya.
“Mana mungkin orang yang tidak bisa menjadi Hokage itu akan datang.”
“Tidak, ayahku pernah bilang sebelumnya…” Ucap Boruto. “Bahwa Sasuke-ojichan adalah Hokage juga.”
“Nanadaime hanya merendah!”” Bentak Sarada.
Posisinya kini berbalik.
Seorang anak keluar dari swalayan itu dan memperhatikan mereka berdua. Seorang wanita yang tampaknya ibunya segera menarik anaknya. Itu adalah pembicaraan dua orang anak pahlawan legendaris.
“Dia tidak merendah.” Ucap Boruto.
Boruto tak peduli soal Hokage, tapi ada sesatu yang yang berbeda dengan menggoda Sarada. Ayahnya mengatakan bahwa Sasuke adalah orang yang dapat menjadikan dunia sebagai lawannya. Boruto berpikir kenapa shinobi seperti itu tak bisa menjadi Hokage…dan kenapa pria yang satu lagi bisa menjadi Hokage.
Tapi kemudian, Boruto berpikir, Ayah mungkin hebat dalam politik, dan Sasuke-san mungkin tidak berurusan dengan hal seperti itu.
Mitsuki menghela nafas kecil dan menginterupsi mereka berdua.
“Aku diberi tahu kalau Sasuke-san adalah satu-satunya shinobi yang bisa bertarung sejajar dengan Nanadaime.” Ucapnya.
“Siapa yang mengatakan itu padamu?” Tanya Boruto dan Sarada bersamaan.
Mitsuki memberikan ‘hmph’ kecil, wajahnya yang biasanya minim ekspresi kini sedikit menunjukkan rasa bangga.
“Yah, itu…”
“Itu?”
“Orangtuaku, yang lebih hebat dari orangtua kalian, adalah orang yang memberitahuku…”
Untuk sesaat, baik Boruto dan Sarada tak memahami maksud kalimat itu.
Mitsuki adalah orang yang tidak biasa, namun dia bukanlah sejenis orang yang berurusan dengan ocehan yang kekanak-kanakan.
Yang artinya bahwa Mitsuki memiliki keyakinan bahwa orangtuanya benar-benar orang yang lebih hebat dari Naruto dan Sasuke.
Itu tak sama dengan ocehan anak-anak yang mengatakan ‘ayahku lebih hebat dari ayahmu!’.
“Apa?” Teman satu tim berkulit pucat mereka memiringkan kepalanya bingung, mungkin karena Boruto dan Sarada menatapnya aneh.
“Tidak- hanya saja-”
“?”
“Orangtuamu…” Ucap Boruto, “Maaf, tapi aku belum pernah mendengar siapa dia.”
“Aku juga belum pernah mendengarnya.” Tambah Sarada.
“Ohh!” Mitsuki menepukkan tangannya. Dia begitu riang sampai lupa menyebutkan detail kecil. “Orangtuaku adalah-“
Tepat saat itu juga, sesuatu terjadi di waktu yang pas.
Telinga Boruto mendengar suara yang hangat layaknya matahari.
“Kakak!”
“Himawari!”
Di seberang jalan dimana mereka berada, adik perempuannya, Uzumaki Himawari, dengan sangat bersemangat melambaikan tangannya.
Di belakangnya ada ibunya, Hinata.
Boruto tak lagi peduli soal cerita tentang orangtua Mitsuki.
Seluruh wajah Boruto memancarkan senyuman.
Sarada yang berada di sebelahnya merasa dadanya menghangat melihat pemandangan itu. Itu adalah wujud dari pancaran sisi baik yang ada dalam diri Boruto. Itu pasti merupakan sesuatu yang diwarisinya dari ayahnya, Naruto, kebaikan yang dapat melelehkan hati setiap orang.
“Maaf ya, aku pulang duluan!” Ucap Boruto, dan berlari.
Sarada memandang punggungnya sedari tadi.
“Untuk berpikir bahwa Boruto bisa membuat wajah seperti itu juga.” Mitsuki bergumam dengan penuh keseriusan, namun tak jelas apakah Sarada mendengarnya.
Itulah bagaimana menyenangkannya memperhatikan punggung Boruto.
Tak diragukan lagi, punggung itu terlihat mirip dengan punggung Nanadaime.
- See more at: http://mangaku.web.id/novelisasi-boruto-the-movie-chapter-1-anak-seorang-pahlawan/#sthash.1n3vSSlC.dpuf

0 komentar:

Poskan Komentar

jika ada yang kurang jelas langsung ajha tanya ke mimin ya.,.,., :) my fb tama ashter soko-tuban

Primbon "mengetahui watak dan karakter seseorang"

PRIMBON™ - Gerbang Dunia Mistik & Alam Gaib

Primbon Jodoh

Numerologi Rahasia Cinta

Nomor Bagua Shuzi